Jaket “Nukang” jadi “Fashion”?

Jaket “Nukang” jadi “Fashion”?

Journal / June 25, 2026

Sebuah perjalanan fungsionalitas menjadi fashionable untuk kesekian kalinya (Lagi)

Date: June 2026 Author: Ryan Ferdinand

Kok bisa garmen yang awalnya buat kerja berat jadi salah satu item “wajib” di dunia fashion?


Mungkin kalian bakal nanya, cikal bakal Chore Jacket/Coat tuh apa sih? Siapa desainernya? Chore Jacket/Coat itu bukan dibuat buat gaya. Sama sekali bukan.

Lahir di Perancis abad ke-19 dengan sebutan Bleu de Travail, Original Chore Jacket ini diciptain buat kerja berat. Ya, kalian gak salah denger, bukan baju desainer atau gimana, Ini. Baju. Untuk. Kerja. Berat.

Kain tebal, warna biru tua bukan karena estetik, tapi biar noda kerja nggak keliatan.

Gak pernah kepikir bakal jadi fashion, apalagi tren.

Akhir 1880-an, Levi Strauss bawa konsep ini ke Amerika. Mereka bikin versi mereka sendiri tambah copper rivet di titik-titik yang sering robek, dan dikasih nama “Sack Coat.”

Tapi Carhartt yang beneran mengembangkan desainnya. Mereka kasih aksen corduroy collar, blanket lining, jahitan triple-stitch. Dari situ jadilah jaket kerja sehari-hari jutaan orang Amerika.

Lama-lama Chore Jacket/Coat masuk budaya pop. Paul Newman pake saat berperan dalam film. Tupac pake ke award show.

Tapi yang paling ikonik adalah Bill Cunningham, fotografer jalanan legendaris, kemana-mana pake ini sampai umur 80-an.

Sekarang makin banyak brand yang bereksperimen sama Chore Jacket/Coat dari workwear label sampai luxury fashion house.

From the railroad to the runway. Baju yang lahir buat kerja keras, jadi salah satu piece paling timeless di dunia fashion.

 

Back to blog

Leave a comment